ASAL MULA SUMBER MATA AIR LAHURUS (LABORUS)
*Yosep Moruk
**Wilhelmus N.
Mali
Pada
jaman dahulu hiduplah 4 buah suku besar yakni Leowes, Astalin, Leoklaran dan
suku Melus. Suku Melus ini adalah suku yang mempunyai segala macam kebutuhan
sehari, sehingga segala yang dibutuhkan oleh ketiga suku tadi harus dibeli
padanya. Melihat itu maka Pertama-tama orang Leowes, orang Astalin dan orang
Leoklaran berkumpul bersama untuk melakukan musyawarah tentang orang melus yang
sangat kikir dan pelit terhadap orang Leowes, Orang Astalin dan orang Leklaran
itu sehingga mereka harus beli kayu dan beli air (ai sosa, we sosa) serta yang
lain-lain dari orang melus itu. Sekarang lebih baik kita hilangkan mereka dari
tempat ini, supaya kita jangan semua harus dibeli. Mulailah ketiga suku
tersebut membagi wilayah kerja untuk menghilangkan suku Melus tersebut antara
lain Leowes dan Astalin bertempat di Loo Sukaer Foho Mane tempat tinggal
orang Melus. Sementara Orang Leoklaran mendapat tugas untuk menghilangkan orang
Melus di wilayah Ai Urak. Dalam menjalankan tugas tersebut Leowes dan Astalin
telah menjalankan tugasnya namun Leoklaran belum menjalankan tugas tersebut
sebab Orang Leoklaran sedang mengadakan pesta Kenduri setelah selesai
memindahkan batu Pusar mesba dari Derok Lolon Lakmau ke Haliketu Ai Na. sebab
dengan memindahkan batu tersebut baru Leba kembali ada Madu, cendana, padi dan
Kapas ada isi. Memberi tanda bahwa musim
hujan sudah sudah tiba yakni melalui suara burung Buik Ati Tou, burung Mauk
Nowa, burung Turu Waku. Burung burung tersebut memberi tanda bahwa sudah dekat
waktunya dengan berteriak dua sampai tiga kali. Sementar Leowes yang mempunyai
barang-barang tajam tersebut sudah mulai menyerbu orang Melus sampai mereka
sudah makan Mata Kelapa dan minum Air laut, Leowes dan Astalin sudah selesai
mengusir orang Melus dan ketika mereka pulang mereka melihat orang Leoklaran
sedang berpesta Pora dan belum menjalankan tugasnya untuk menghilangkan orang
Melus, sehingga timbulah amarah dari orang Leowes dan Asatalin Bahwa jika Orang
Leoklaran tidak menjalankan tugasnya maka orang Leoklaran juga akan dihilangkan
oleh orang Leowes dan Astalin.
Barulah setelah itu orang Leoklaran melakukan
pertemuan dan duduk berkumpul untuk musyawarah bersama. Dalam pertemus
tersebut, orang leoklaran kewalahan karena tidak mempunyai barang atau alat
tajam untuk menghilangkan atau mengusir orang Melus tersebut. Setelah berunding
dan mencari cara akhirnya timbulah ide dalam benak ketua Suku Leoklaran (Dasi Bauk Lorok Ulun), “ sekarang baik
kita mulai siap uang, ayam, babi, siri daun, pinang beras dan bekal secukupnya.
Ketua suku Leklaran ini bersama anggota
sukunya baik perempuan maupun laki pergi bersama ke Turiskain We roat yang
dekat dengan Kailaku. Setalah tiba dan bersitirahat sejenak mereka langsung
memulainya dengan acara ritual adat hingga selesai dan setelah itu mereka mulai
memotong ayam di pintu masuk untuk melihat urat ayam dan usus ayam itu baik
atau tidak. Namun ketika melihat urat ayam tersebut tidak baik akhirnya mereka
bunuh lagi, begitupun babi dab binatang lainnya, sehingga mereka kwatir, apa
yang harus mereka buat lagi, mereka berpikir mungkin tuan air tersebut marah
kepada mereka sehingga ketua suku Dasi Bauk Lorok mengatakan mala mini kita
semua tidur di pinggir air ini supaya kita mau mimpi apa dan lihat apa yang
akan terjadi. Sebagai ketua suku Dasi Bauk Lorok mengambil posisi tidur di di
atas sumber Air. Pada malam itu juga sang pemilik air itu langsung berbicara
dengan ketua suku leoklaran ini katanya jika kamu menginginkan air ini kamu
harus menyerahkan seorang perempuan yang cantik jelita keturunan raja yang
masih gadis kepadanya. Namun sebelumnya tuan air tersebut sudah bertemu dan
bicara langsung dengan Dasi Kolo Bada
adik perempuan semata wayang dari ketua suku leoklaran tersebut. Kemudian
paginya mereka berunding terkait keinginan pemilik air semalam kepada anggota
sukunya bahwa mereka harus menyerahkan seorang gadis cantik kepada tuan air
tersebut. Kemudian di ambilah seorang pembantu/hamba yang cantik supaya bisa
diberikan pada tuan air tersebut. Mereka mulai merias pembantu yang masih gadis
tersebut secantik mungkin. Kemudian mereka berkumpul untuk makan bekal yang
dibawah, sesudah makan karena tidak ada air minum akhirnya ketua Suku Dasi Bauk
Lorok menyuruh pembantu gadis yang sudah dirias secantik tadi untuk menimba air
minum di sumber air tersebut dengan pesan bahwa jangan kamu timbah di pinggir/
tepi karena air kotor tapi timbalah di ditengah-tengah air tersebut. Si
pembantu tersebut menjalankan sesuai apa yang diperintahkan sang ketua suku, ia
pun pergi dan menimbah di tengah-tengah sumber air tersebut namun tidak ada
reaksi yang terjadi oleh air tersebut sehingga si pembantu pun pulang dan
membawa air minum untuk mereka, akhirnya proses untuk menyerahkan gadis kepada
air tersebut pun tidak berhasil. Tuan air tersebut tidak menerimanya karena ia
seorang gadis hamba, sehingga pada tuan air tersebut bertambah marah dan
mengatakan kepada ketua suku Leoklaran Dasi Bauk Lorok “ saya menginginkan
gadis yang cantik yang masih keturunan raja bukan gadis cantik keturunan hamba,
saya menginginkan gadis bangsawan tesebut karena saya sudah bertemu dengan dia.
Lalu dasi Bauk Lorok ini mulai bimbang bagaimana dengan saudari kandung semata
wayangnya ini, rasa terharu bercampur sedih terpaksa mereka mulai merias Dasi Kolo Bada Ikun dan menyuruhnya
pergi menimbah air untuk minum. Namun hati Dasi Kolo Bada Ikun merasa biasa dan
tidak ragu-ragu karena ia sudah bertemu dengan tuan air tersebut. Baru saja ia
menginjakan kakinya di pinggir air, sumber air tersebut sudah bergerak hendak
menerima dia. Lalu kakaknya Dasi Bauk Lorok berpesan jangan kamu timbah
dipinggir kerena kotor airnya kamu harus timbah di yang lebih dangkal supaya
bersih airnya. Ketika ia melangkah maju hingga ke tengah dan ia mulai
melambaikan tangan bagi saudara dan semua orang leoklaran dan seketika air
tersebut berdiri semacam laut menutupi Dasi Kolo Bada Ikun hingga ia pun
hilang. Seketika juga mereka mendengar bunyi gong dan gendrang serta tambur
mengantar dia berjalan, semua yang mengkuti terharu dan menangis melihat
kejadian tersebut.
Sambil menuggu hingga genap tujuh hari air tersebut
berdiri semacam ombak lau mengantar kembali hiasan-hiasan dan tumpaian dan periuk
tanah kecil yang sampai di pinggir air. Dan Dasi Bauk Lorok Ulun langsung
menerimanya lalu menggendong dengan kain adat dan rasa terharu dan tangis di
antara mereka. Mereka bersiap untuk kembali namun mereka merasa sangat sedih
sekali karena kehilangan Dasi Kolo Bada Ikun.mereka mulai pamit “ o kasian kita
sudah berpisah dengan engkau, tidak akan melihat engkau lagi sampai
selama-lamanya”. Mereka berjalan namun langkah kaki mereka terasa berat dan
gementar untuk melangkah, mereka berjalan pelan-pelan sesampai di tempat
bernama Maubusa ketua adat Dasi Bauk Lorok Ulun terantuk, air yang berada di
periuk tanah tersebut tumpah sedikit dan langsung air itu mengalir naik
seketika hingga sekarang dan di situ di namakan air Besar We Busa (We Bot
Maubusa) mereka melangkah maju terus sesampai tempat Dikwai tumpah sedikit lagi
dan langsung seketika juga terbentuk sumber air di situ, mereka berjalan terus
sampai di Mahein tumpah lagi dan langsung mengalir naik dan orang menamakan
sumber air itu (We Tihu) semua mengambil air di situ. Akhirnya sampailah mereka
pada tempat terakhir yang bernama Debu Derok, mereka menuggu waktu di situ,
saat menuggu satu tetes air membasahi lagi dan timbullah sumber air di situ
sampai hari ini. Mereka lain jalan terus ke Haliketu Ai Na sementara Dasi Bauk
Lorok Ulun tetap di situ bersama seekor anjingnya Luneu Meta. Sampai
pertengahan malam ketua suku Dasi Bauk Lorok masuk terus dalam kampung Melus
dan mulai mengangkat lesung dan mendirikannya kemudian meletakan periuk tanah
yang berisi air tersebut ke dalam lesung tersebut sesudah itu ia mengikat leher
anjing meta dengan lesung tersebut dan membelai anjing Meta tersebut sampai anjing tersebut
tertiidur nyenyak. Setelah itu baru Dasi Bauk Lorok Ulun berjalan pelan sampai pada bukit kecil disebelah Fatubesi.
Setelah itu ia mulai memanggil nama anjingnya, pertama kali e…… Meta…! Kedua kali e……. Meta…! Ketiga kali e…… Meta….! Sambil meniup
seruling, seketika anjing Meta tersebut kaget mendengar suara Dasi Bauk Lorok
Ulun, anjing tersebut berlari sangat kencang dan menjatuhkan lesung tersebut.
Ketika lesung tersebut jatuh bersamaan dengan tertumpahnya air dalam tempaian
tersebut hujan pun berlangsung 7 hari 7 malam dan mengakibatkan tanah longsor
menutupi kampung Melus dan semua orang Melus hilang semuanya barulah hujan
berhenti. Lalu orang Leoklaran datang dahulu ke kampung Melus di Ai Urak itu.
Mereka melihat tanah longsor dan rumah-rumah orang melus hilang semua, tak ada
satupun yang tertinggal, dan ketika mereka berkeliling- mereka menemukan
seoarang anak laki-laki kecil berada di atas bale-bale, ia masih hidup. Orang
leoklaran berusaha mengeluarkan dia dan langsung membawanya ke rumah untuk
disembunyikan di atas loteng dan ditutup dengan keranjang besar supaya orang
jangan melihat dia. Kemudian setelah beberapa hari orang Leowes dan orang
Astalin serta orang leoklaran pergi bersama untuk melihat kampung orang Melus
yang berada di Ai Urak Ren tersebut, dan ternyata tempat tersebut benar-benar
sudah tidak ada lagi. Sehingga orang Leowes, Astalin, dan Leolaran sudah hidup
aman, tidak serba beli ini atau beli itu lagi. Semuanya bebas di ambil. Tidak
ada yang di tegur seperti orang Melus yang pelit dan kikir itu. Kemudian
barulah air Laborus ini muncul di kampung orang Melus tersebut, kemudian disusul
masuknya agama Katolik di Timor, pastor-pastor SJ yang menetap pertama di
Laborus ini. Tempat ini di berikan oleh raja Loro Sera Lorok dan Sera
Berek 1. Raja Loro Doon Kaitanus,
Raja Loro Habe Dakosia
Kuru
lulik ke bau faen
Hodi
inan feton Dasi Kolo Lorok Bada
Mak
ba faen hatama matak inan malirin iha
Turiskain
we roat hodi mai halakon ema melus iha kota Ai Urak Ren
Dodok
foin firi tun Mai ba Kraik
LABORUS
ema neebe mak naran Bauk No Kolo
Labele
temi naran, filas naran. Kalo terik naran Kolo no Bauk ema nee sia Lakon Kedan.
Diceritakan
ulang oleh : Ba’I Yosep Moruk anak dari Ba’I Petrus Kali
Ditulis/
diketik oleh : anak cucu Wilhelmus
Nominong Mali