Jumat, 19 Februari 2016

ASAL MULA SUMBER MATA AIR LAHURUS (LABORUS)
*Yosep Moruk
**Wilhelmus N. Mali

Pada jaman dahulu hiduplah 4 buah suku besar yakni Leowes, Astalin, Leoklaran dan suku Melus. Suku Melus ini adalah suku yang mempunyai segala macam kebutuhan sehari, sehingga segala yang dibutuhkan oleh ketiga suku tadi harus dibeli padanya. Melihat itu maka Pertama-tama orang Leowes, orang Astalin dan orang Leoklaran berkumpul bersama untuk melakukan musyawarah tentang orang melus yang sangat kikir dan pelit terhadap orang Leowes, Orang Astalin dan orang Leklaran itu sehingga mereka harus beli kayu dan beli air (ai sosa, we sosa) serta yang lain-lain dari orang melus itu. Sekarang lebih baik kita hilangkan mereka dari tempat ini, supaya kita jangan semua harus dibeli. Mulailah ketiga suku tersebut membagi wilayah kerja untuk menghilangkan suku Melus tersebut antara lain Leowes dan Astalin  bertempat di Loo Sukaer Foho Mane tempat tinggal orang Melus. Sementara Orang Leoklaran mendapat tugas untuk menghilangkan orang Melus di wilayah Ai Urak. Dalam menjalankan tugas tersebut Leowes dan Astalin telah menjalankan tugasnya namun Leoklaran belum menjalankan tugas tersebut sebab Orang Leoklaran sedang mengadakan pesta Kenduri setelah selesai memindahkan batu Pusar mesba dari Derok Lolon Lakmau ke Haliketu Ai Na. sebab dengan memindahkan batu tersebut baru Leba kembali ada Madu, cendana, padi dan Kapas ada isi. Memberi tanda bahwa  musim hujan sudah sudah tiba yakni melalui suara burung Buik Ati Tou, burung Mauk Nowa, burung Turu Waku. Burung burung tersebut memberi tanda bahwa sudah dekat waktunya dengan berteriak dua sampai tiga kali. Sementar Leowes yang mempunyai barang-barang tajam tersebut sudah mulai menyerbu orang Melus sampai mereka sudah makan Mata Kelapa dan minum Air laut, Leowes dan Astalin sudah selesai mengusir orang Melus dan ketika mereka pulang mereka melihat orang Leoklaran sedang berpesta Pora dan belum menjalankan tugasnya untuk menghilangkan orang Melus, sehingga timbulah amarah dari orang Leowes dan Asatalin Bahwa jika Orang Leoklaran tidak menjalankan tugasnya maka orang Leoklaran juga akan dihilangkan oleh orang Leowes dan Astalin.
Barulah setelah itu orang Leoklaran melakukan pertemuan dan duduk berkumpul untuk musyawarah bersama. Dalam pertemus tersebut, orang leoklaran kewalahan karena tidak mempunyai barang atau alat tajam untuk menghilangkan atau mengusir orang Melus tersebut. Setelah berunding dan mencari cara akhirnya timbulah ide dalam benak ketua Suku Leoklaran (Dasi Bauk Lorok Ulun), “ sekarang baik kita mulai siap uang, ayam, babi, siri daun, pinang beras dan bekal secukupnya. Ketua suku Leklaran ini  bersama anggota sukunya baik perempuan maupun laki pergi bersama ke Turiskain We roat yang dekat dengan Kailaku. Setalah tiba dan bersitirahat sejenak mereka langsung memulainya dengan acara ritual adat hingga selesai dan setelah itu mereka mulai memotong ayam di pintu masuk untuk melihat urat ayam dan usus ayam itu baik atau tidak. Namun ketika melihat urat ayam tersebut tidak baik akhirnya mereka bunuh lagi, begitupun babi dab binatang lainnya, sehingga mereka kwatir, apa yang harus mereka buat lagi, mereka berpikir mungkin tuan air tersebut marah kepada mereka sehingga ketua suku Dasi Bauk Lorok mengatakan mala mini kita semua tidur di pinggir air ini supaya kita mau mimpi apa dan lihat apa yang akan terjadi. Sebagai ketua suku Dasi Bauk Lorok mengambil posisi tidur di di atas sumber Air. Pada malam itu juga sang pemilik air itu langsung berbicara dengan ketua suku leoklaran ini katanya jika kamu menginginkan air ini kamu harus menyerahkan seorang perempuan yang cantik jelita keturunan raja yang masih gadis kepadanya. Namun sebelumnya tuan air tersebut sudah bertemu dan bicara langsung dengan Dasi Kolo Bada adik perempuan semata wayang dari ketua suku leoklaran tersebut. Kemudian paginya mereka berunding terkait keinginan pemilik air semalam kepada anggota sukunya bahwa mereka harus menyerahkan seorang gadis cantik kepada tuan air tersebut. Kemudian di ambilah seorang pembantu/hamba yang cantik supaya bisa diberikan pada tuan air tersebut. Mereka mulai merias pembantu yang masih gadis tersebut secantik mungkin. Kemudian mereka berkumpul untuk makan bekal yang dibawah, sesudah makan karena tidak ada air minum akhirnya ketua Suku Dasi Bauk Lorok menyuruh pembantu gadis yang sudah dirias secantik tadi untuk menimba air minum di sumber air tersebut dengan pesan bahwa jangan kamu timbah di pinggir/ tepi karena air kotor tapi timbalah di ditengah-tengah air tersebut. Si pembantu tersebut menjalankan sesuai apa yang diperintahkan sang ketua suku, ia pun pergi dan menimbah di tengah-tengah sumber air tersebut namun tidak ada reaksi yang terjadi oleh air tersebut sehingga si pembantu pun pulang dan membawa air minum untuk mereka, akhirnya proses untuk menyerahkan gadis kepada air tersebut pun tidak berhasil. Tuan air tersebut tidak menerimanya karena ia seorang gadis hamba, sehingga pada tuan air tersebut bertambah marah dan mengatakan kepada ketua suku Leoklaran Dasi Bauk Lorok “ saya menginginkan gadis yang cantik yang masih keturunan raja bukan gadis cantik keturunan hamba, saya menginginkan gadis bangsawan tesebut karena saya sudah bertemu dengan dia. Lalu dasi Bauk Lorok ini mulai bimbang bagaimana dengan saudari kandung semata wayangnya ini, rasa terharu bercampur sedih terpaksa mereka mulai merias Dasi Kolo Bada Ikun dan menyuruhnya pergi menimbah air untuk minum. Namun hati Dasi Kolo Bada Ikun merasa biasa dan tidak ragu-ragu karena ia sudah bertemu dengan tuan air tersebut. Baru saja ia menginjakan kakinya di pinggir air, sumber air tersebut sudah bergerak hendak menerima dia. Lalu kakaknya Dasi Bauk Lorok berpesan jangan kamu timbah dipinggir kerena kotor airnya kamu harus timbah di yang lebih dangkal supaya bersih airnya. Ketika ia melangkah maju hingga ke tengah dan ia mulai melambaikan tangan bagi saudara dan semua orang leoklaran dan seketika air tersebut berdiri semacam laut menutupi Dasi Kolo Bada Ikun hingga ia pun hilang. Seketika juga mereka mendengar bunyi gong dan gendrang serta tambur mengantar dia berjalan, semua yang mengkuti terharu dan menangis melihat kejadian tersebut.
Sambil menuggu hingga genap tujuh hari air tersebut berdiri semacam ombak lau mengantar kembali hiasan-hiasan dan tumpaian dan periuk tanah kecil yang sampai di pinggir air. Dan Dasi Bauk Lorok Ulun langsung menerimanya lalu menggendong dengan kain adat dan rasa terharu dan tangis di antara mereka. Mereka bersiap untuk kembali namun mereka merasa sangat sedih sekali karena kehilangan Dasi Kolo Bada Ikun.mereka mulai pamit “ o kasian kita sudah berpisah dengan engkau, tidak akan melihat engkau lagi sampai selama-lamanya”. Mereka berjalan namun langkah kaki mereka terasa berat dan gementar untuk melangkah, mereka berjalan pelan-pelan sesampai di tempat bernama Maubusa ketua adat Dasi Bauk Lorok Ulun terantuk, air yang berada di periuk tanah tersebut tumpah sedikit dan langsung air itu mengalir naik seketika hingga sekarang dan di situ di namakan air Besar We Busa (We Bot Maubusa) mereka melangkah maju terus sesampai tempat Dikwai tumpah sedikit lagi dan langsung seketika juga terbentuk sumber air di situ, mereka berjalan terus sampai di Mahein tumpah lagi dan langsung mengalir naik dan orang menamakan sumber air itu (We Tihu) semua mengambil air di situ. Akhirnya sampailah mereka pada tempat terakhir yang bernama Debu Derok, mereka menuggu waktu di situ, saat menuggu satu tetes air membasahi lagi dan timbullah sumber air di situ sampai hari ini. Mereka lain jalan terus ke Haliketu Ai Na sementara Dasi Bauk Lorok Ulun tetap di situ bersama seekor anjingnya Luneu Meta. Sampai pertengahan malam ketua suku Dasi Bauk Lorok masuk terus dalam kampung Melus dan mulai mengangkat lesung dan mendirikannya kemudian meletakan periuk tanah yang berisi air tersebut ke dalam lesung tersebut sesudah itu ia mengikat leher anjing meta dengan lesung tersebut dan membelai anjing  Meta tersebut sampai anjing tersebut tertiidur nyenyak. Setelah itu baru Dasi Bauk Lorok Ulun berjalan pelan  sampai pada bukit kecil disebelah Fatubesi. Setelah itu ia mulai memanggil nama anjingnya, pertama kali e…… Meta…!  Kedua kali e……. Meta…!  Ketiga kali e…… Meta….! Sambil meniup seruling, seketika anjing Meta tersebut kaget mendengar suara Dasi Bauk Lorok Ulun, anjing tersebut berlari sangat kencang dan menjatuhkan lesung tersebut. Ketika lesung tersebut jatuh bersamaan dengan tertumpahnya air dalam tempaian tersebut hujan pun berlangsung 7 hari 7 malam dan mengakibatkan tanah longsor menutupi kampung Melus dan semua orang Melus hilang semuanya barulah hujan berhenti. Lalu orang Leoklaran datang dahulu ke kampung Melus di Ai Urak itu. Mereka melihat tanah longsor dan rumah-rumah orang melus hilang semua, tak ada satupun yang tertinggal, dan ketika mereka berkeliling- mereka menemukan seoarang anak laki-laki kecil berada di atas bale-bale, ia masih hidup. Orang leoklaran berusaha mengeluarkan dia dan langsung membawanya ke rumah untuk disembunyikan di atas loteng dan ditutup dengan keranjang besar supaya orang jangan melihat dia. Kemudian setelah beberapa hari orang Leowes dan orang Astalin serta orang leoklaran pergi bersama untuk melihat kampung orang Melus yang berada di Ai Urak Ren tersebut, dan ternyata tempat tersebut benar-benar sudah tidak ada lagi. Sehingga orang Leowes, Astalin, dan Leolaran sudah hidup aman, tidak serba beli ini atau beli itu lagi. Semuanya bebas di ambil. Tidak ada yang di tegur seperti orang Melus yang pelit dan kikir itu. Kemudian barulah air Laborus ini muncul di kampung orang Melus tersebut, kemudian disusul masuknya agama Katolik di Timor, pastor-pastor SJ yang menetap pertama di Laborus ini. Tempat ini di berikan oleh raja Loro Sera Lorok dan Sera Berek 1. Raja Loro Doon Kaitanus, Raja Loro Habe Dakosia

Kuru lulik ke bau faen
Hodi inan feton Dasi Kolo Lorok Bada
Mak ba faen hatama matak inan malirin iha
Turiskain we roat hodi mai halakon ema melus iha kota Ai Urak Ren
Dodok foin firi tun Mai ba Kraik
LABORUS ema neebe mak naran Bauk No Kolo
Labele temi naran, filas naran. Kalo terik naran Kolo no Bauk ema nee sia Lakon Kedan.

Diceritakan ulang oleh : Ba’I Yosep Moruk anak dari Ba’I Petrus Kali

Ditulis/ diketik oleh : anak cucu Wilhelmus Nominong Mali